Memori Hati


Dua tahun yang lalu Ayana mempunyai seorang kekasih, namanya Ruben. Ayana mencintai Ruben. Begitu pun Ruben mencintai Ayana. Perkenalan mereka diawali oleh salah satu teman Ayana, yang bernama Fitri. “Na, kamu mau ngga aku kenalin sama cowok?” Ayana menjawab, “Hah cowok apaan deh Fit?” Lalu ayana tertawa. “Eh jangan ketawa, aku serius tau Na, kamu mau ngga? Sudah lama kamu sendiri ini juga kan? Lagian kenapa sih suka banget sama kejombloan kamu itu? Apa masih ngga bisa move on dari Wira?” tanya Fitri. Hati Ayana berdebar mendengar nama itu disebut. Nama yang diharamkan bagi hatinya, yang ketika disebut akan membangunkan kenangan-kenangan lama.
Dua tahun yang lalu sebelumnya, Ayana naksir salah satu teman di SMA nya, keduanya berada dikelas yang sama. Ayana tak habis pikir mengapa Wira membuat kenangan dan cerita yang membekas yang sangat banyak di memori hatinya. Apa karena Wira adalah sosok yang telah ditunggu, yaitu cinta pertama Ayana dibangku SMA. Yang bagi semua orang akan merasakan cinta tersebut saat duduk di bangku SMA? Sayang seribu sayang Ayana tidak pernah dapat mengucapkan atau mengutarakan perasaannya kepada Wira, meski Ayana tau Wira tau tentang perasaan Ayana padanya dari ledekan-ledekan yang diterima Wira dari teman-teman Ayana saat Wira lewat di depan kelas.
Kembali lagi Ayana mengingat pertemuannya dengan Ruben di bangkukuliah, Ruben mengambil jurusan Sastra Inggris dikampus Ayana. Beda jurusan yang diambil Ayana yaitu jurusan Sekretaris. Di depan gedung kampus Fitri memperkenalkan Ayana pada Ruben. Dari mulai kenalan, tukeran nomor telfon, berlanjut di sms dan chat, lalu jalan-jalan, nonton bioskop, dan semua hal yang dilakuin pada tahap-tahap pendekatan. Hari itu pun terjadi dimana Ruben tiba-tiba datang kerumah Ayana dan membawa buket bunga mawar merah sebagai ungkapan perasaaan Ruben kepada Ayana yang disambut kata “Ya aku mau Ben.” dari mulut Ayana. Ruben tersenyum.
Bersama Ruben adalaah saat pertama baginya untuk pacaran yang serius beda pada zaman SMA dimana masih labil. Bersama Ruben, Ayana berbicara dewasa tapi tidak kearah negatif tapi tentang banyak hal yang terjadi di dunia. Bersama Ruben, Ayana menemukan ini ‘rumah’ yang selama ini dia cari. Tapi semua itu tidak berlangsung lama. Wira tiba-tiba muncul kembali ke dalam hidup Ayana. Wira membawa kenangan lama yang seharusnya terkubur kembali muncul ke permukaan. Wira datang dengan memberi harapan-harapan manis kepada Ayana. Ayana menjadi bimbang hatinya. Ayana mulai mengacuhkan Ruben.
Ayana berubah, Ruben bertanya. Ayana menjauh, Ruben mengejar. Ayana diam, Ruben lelah. Ruben berubah, Ayana bertanya, Ruben menjauh, Ayana terdiam, Ruben diam, Ayana acuh. Perlahan tapi pasti semua yang dibangun Ruben dan Ayana runtuh. Pondasi mereka yang sudah lama hancur didiamkan hingga benar-benar hancur hingga ke dasar. Saat Ruben meminta berpisah Ayana meyanggupi. Ruben pergi, Ayana hanya bisa melihat.
Ayana yakin Wira akan bisa menggantikan Ruben. Tapi seiring kepergian Ruben, Wira berubah. Lalu dia menghilang juga, Ayana mencari Wira. Dan Ayana tersadar bahwa Wira hanya datang untuk mempermainkan perasaannya seolah-olah Wira mempunyai rasa pada Ayana. Nasi sudah menjadi bubur. Kata Ayana. Suatu hari Ayana mengingat Ruben dan ingin membawanya kembali untuk meminta maaf atas segala kesalahannya. Telambat untuk Ayana, Ruben telah bersama yang lain yang lebih mencintai Ruben apa adanya.
Ya Ayana menyesal dan dalam hatinya berkata  “Begitu cepat dirimu pergi, begitu cepat berlalunya dirimu sampai aku tertinggal tak dapat mengejar dirimu...”

Komentar

Postingan Populer