Nostalgia Cerpen (2012)
NB:
Mengenang masa SMA dibangku kelas X-12, waktu itu pelajaran Bahasa Indonesia dan guru saya menyuruh siswanya untuk membaca cerpen yang berjudul "Langit Menggelap di Vredeburg", lalu menyuruh siswanya membuat rangkuman dan pesan yang dapat diambil dari cerpen tersebut. Mengenang kembali membaca sebuah cerpen yang masih kuingat sampai hari ini. Aneh tapi nyata.
Langit Menggelap di Vredeburg
oleh Sulialine Adelia
Beginilah menjelang senja di jantung kota. Sekelompok remaja nongkrong di atas motor model terbaru mereka sambil ngobrol dan tertawa-tawa. Ada juga remaja atau mereka yang beranjak dewasa duduk berdua-dua, di bangku semen, di atas sadel motor, atau di trotoar. Anak-anak kecil berlarian sambil disuapi orang tuanya. Pengamen yang beristirahat setelah seharian bekerja. Dan orang gila yang tidur di sisi pagar.
Di
salah satu bangku kayu panjang, bersisihan dengan remaja yang sedang
bermesraan, Reyna duduk menghadap ke jalan. Hanya duduk. Mengamati
kendaraan atau orang-orang yang melintas. Menunggu senja rebah di
hamparan kota.
Tiba-tiba
laki-laki itu sudah berada di depannya sambil mengulurkan tangan. "Apa
kabar?" katanya memperlihatkan giginya yang kekuningan. Asap rokok telah
menindas warna putihnya.
"Kamu
di sini?" Reyna tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Segala rasa
berpendaran dalam hatinya. Senang, sendu, haru, pilu, yang kesemuanya
membuat Reyna ingin menjatuhkan dirinya dalam peluk lelaki itu.
Begitu
juga Mozes, lelaki tua yang berdiri di depan Reyna. Dadanya bergemuruh
hebat mendapati perempuan itu di depan matanya. Ingin ia memeluk,
menciumi perempuan itu seperti dulu, tetapi tak juga dilakukannya.
Hingga Reyna kembali menguasai perasaannya, lalu menggeser duduknya memberi tempat Mozes di sebelahnya.
"Kaget?" tanya Mozes, duduk di sebelah Reyna.
Reyna tertawa kecil.
"Gimana?" tanya Reyna tak jelas arahnya. "Lama sekali nggak ketemu."
"Iya. Berapa tahun ya? Dua lima, tiga puluh?"
"Tiga puluh tahun!" jawab Reyna pasti.
"Ouw! Tiga puluh tahun. Dan kamu masih semanis dulu."
"Terima
kasih," Reyna tersenyum geli. Masih ’semanis dulu’. Bukankah itu lucu?
Kalaupun masih tampak cantik atau manis itu pasti tinggal sisanya saja.
Kecantikan yang telah terbalut keriput di seluruh tubuhnya. Tapi kalimat
itu tak urung membuat Reyna tersipu. Merasa bangga, tersanjung
karenanya.
"Kapan datang?" tanya Reyna. Mulai berani lagi menatap mata lelaki di sebelahnya.
"Belum seminggu," jawab Mozes.
"Mencariku?" Reyna tersenyum. Sisa genitnya di masa muda.
Mozes tertawa berderai-derai. Lalu katanya pelan, "Aku turut berduka atas meninggalnya suamimu," tawanya menghilang.
Reyna
tak menjawab sepatah pun. Bahkan ucapan terima kasih tidak juga
meluncur dari bibirnya. Ia menerawang ke kejauhan. Detik berikutnya mata
Reyna tampak berlinangan. Goresan luka di sudut hatinya kembali
terkoyak. Rasa perih perlahan datang. Luka lama itu ternyata tak pernah
mampu disembuhkannya. Semula ia menduga luka itu telah pulih, tetapi
sore ini, ketika Mozes tiba-tiba muncul di hadapannya ia sadar luka itu
masih ada. Tertoreh dalam di sudut perasaannya.
Reyna
dan Mozes. Mozes pekerja film yang bukan saja terampil, tetapi juga
cerdas dan kritis. Reyna pengelola media sebuah perusahaan terkemuka.
Mereka bertemu karena Reyna harus membuat sebuah film sebagai media
pencitraan perusahaannya. Reyna yang istri dan ibu seorang anak, dan
Mozes yang duda. Dua orang muda yang masih segar, bersemangat, dan
menawan. Dua orang yang kemudian saling jatuh cinta.
Reyna
hampir saja meninggalkan Braham ketika itu. Ibu muda Reyna merasa
menemukan sampan kecil untuk berlabuh. Meninggalkan malam-malamnya yang
kelam bersama Braham. Pergi mengikuti aliran sungai kecil yang akan
mengantarnya ke dermaga damai tanpa ketakutan, tanpa kesakitan. Berdua
Mozes.
Tetapi
sampan kecil itu ternyata begitu ringkih. Ia tak mampu menyangga beban
berdua. Ia hanya ingin sesekali singgah, bermesra dan bercinta tanpa
harus mengangkutnya. Mozes tak menginginkan ikatan apa pun antara
dirinya dan Reyna. Ia ingin tetap bebas pergi ke mana pun ia ingin dan
kembali kapan ia rindu. Kebebasan yang tak bisa Reyna terima. Maka
sebelum perjalanan dimulai, ia memutuskan undur diri. Perempuan itu
menyadari, bukan laki-laki seperti Mozes yang ia ingini untuk
membebaskan dari derita malam-malamnya. Mozes berbeda dengan dirinya
yang membutuhkan teman seperjalanan, ia hanya mencari ruang untuk
membuang kepedihan dan mencari hiburan. Tak lebih.
"Berapa lama kamu akan tinggal?" tanya Reyna setelah gejolak perasaannya mereda.
"Entah.
Mungkin sebulan, dua bulan, atau mungkin sepanjang sisa umurku," jawab
Mozes, tanpa senyum, tanpa memandang Reyna. "Banyak hal yang memberati
pikiran dan tak bisa kuceritakan pada siapa pun selama ini."
"Itu sebabnya kamu kemari?"
"Jakarta
semakin sesak dan panas. Sementara Jogja masih tetap nyaman buat
berkarya. Jadi kuputuskan kembali," lanjut Mozes tanpa mengacuhkan
pertanyaan Reyna. "Begitu kembali seseorang bilang padaku, kamu sering
di sini sore hari."
"Maka kamu mencariku. Berharap mengulang lagi hubungan dulu."
Mozes menggeleng.
"Atau membangun hubungan baru."
Mozes menggeleng lagi, "Tidak juga. Aku tidak butuh hubungan seperti itu. Aku hanya butuh teman ngobrol…"
"Teman
bermesra, teman bercinta yang bisa kamu datangi dan kamu tinggal pergi.
Tanpa tuntutan, tanpa ikatan!" potong Reyna. "Itu hubungan yang sejak
dulu kamu inginkan bersamaku kan? Seperti sudah kubilang dulu, aku tidak
bisa. Aku sudah memilih."
Kebekuan
kembali merejam perasaan kedua orang tua itu. Langit perlahan
kehilangan warna jingga. Satu per satu lampu di sekeliling mulai
menyala. Ada rangkaian lampu-lampu kecil berbentuk bunga di samping
tikungan yang menyala bergantian, hijau, kuning, merah. Ada lampu besar
dengan tiang sangat tinggi yang menyorot ke taman, ada pula lampu
berwarna temaram yang semakin menggumpalkan kesenduan.
Tiga
puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Terlalu banyak hal terjadi pada
mereka dan sekian lama masing-masing memendam untuk diri sendiri.
Mestinya pertemuan sore itu adalah untuk berbagi cerita bukan justru
bertengkar kemudian saling diam. Atau mungkin karena perpisahan yang
terlalu panjang, keduanya tak tahu apa yang harus diceritakan terlebih
dahulu.
Mungkin
memang begitu, karena senyatanya Reyna ingin berkata, beberapa tahun
setelah perpisahan mereka ia masih juga mencari kabar tentang Mozes.
Hingga suatu hari, satu setengah tahun setelah mereka tidak bersama
seorang teman mengabarkan bahwa Mozes pulang ke Jakarta. Tak lama
setelah itu, ia mendengar Mozes tengah melanglang buana. Buana yang
mana, entah. Reyna merasa tidak perlu lagi mencari tahu keberadaan
laki-laki itu. Meski tak jarang bayangan Mozes tiba-tiba membangunkan
tidurnya atau menyergap ingatannya begitu Braham mulai menjamah tubuhnya
dan membuat Reyna kesakitan tak terkira.
Terdengar
Mozes menghela napas. Panjang. Perlahan gumpalan kemarahan yang
menyesaki dada Reyna mereda. Namun hasrat untuk terus ngobrol telah tak
ada. Maka sisa pertemuan itu pun berlalu begitu saja. Kebekuan masih
mengental di antara keduanya. Hingga Reyna minta diri, dan beranjak
pergi.
Hari-hari
setelah kejadian itu, Reyna tak pernah tampak di depan Vredeburg lagi.
Tetapi Mozes masih sering terlihat di salah satu bangku kayu di sana.
Sendiri di tengah orang-orang muda yang tengah bercanda dan bercinta.
Menghisap rokok kreteknya. Sesekali mengibaskan rambut putihnya yang
panjang, tersapu angin menutup wajah tirusnya.
Begitu
perasaan Reyna membaik dan siap bertemu Mozes lagi, ia kembali pada
rutinitasnya, menunggu senja jatuh di Vredeburg. Namun ia harus menelan
kecewa karena Mozes tak dijumpainya. Bahkan telepon genggamnya tak bisa
dihubungi.
Suatu sore, di tengah keputusasaan Reyna, seorang teman mendatangi dan mengulurkan sebuah surat kepadanya. Surat dari Mozes!
"Hari-hari
itu dia mencoba menghubungimu, tetapi HP-mu tak pernah aktif," kata
laki-laki itu. "Ginjalnya tak berfungsi, serangan jantungnya kambuh,
tekanan darahnya tidak stabil…"
Reyna
tak bisa mendengar lagi penjelasan laki-laki itu. Bahkan ketika si
teman menyerahkan satu dos buku dan tas berisi kamera warisan kekayaan
Mozes untuknya, Reyna belum kembali pada kesadarannya.
Senja
beranjak renta. Seperti Reyna merasai dirinya. Sepasang remaja di
sebelahnya telah pergi. Begitu juga sekumpulan anak muda yang nongkrong
di atas motor mereka, mulai menghidupkan mesin kendaraannya. Sisa adzan
sayup terdengar dari Masjid Besar. Sebaris kalimat di surat terakhir
Mozes meluncur dalam gumaman.

Komentar
Posting Komentar