Kulihat Senja di Matamu
Hari itu langit memancarkan cahaya kemilau kuning dipelosok langit yang jauh, aku bertanya-tanya kepada langit, "Langit apakah selalu seperti itukah dirimu disaat diriku sedang merasa sedih? Seolah-olah kau tahu perasaanku yang sedang sedih ini, seolah-seolah kau pun ikut bersedih atas diriku."
Masih bertanya-tanya kepada langit didalam hati lamunanku menghilang, kembali ke alam nyata. Audrey memanggilku dari ujung jalan taman ini, aku melihatnya. Dia mulai berjalan menghampiriku dan tiba-tiba duduk disebelah bangku taman yang kutempati. "Masih sedih?" tanyanya. Aku menjawab "Tidak... Dan bagaimana kau tahu?" tanyaku kepada dia. Audrey malah tertawa. Aku suka melihatnya tertawa bukan karena aku menyukai dirinya, tapi aku memang sangat menyukai dirinya. Maksudku dalam arti seorang sahabat, seorang kakak perempuan baginya dan seorang kakak ipar baginya... Mengapa pikiran terakhir itu bisa terlintas dibenakku?
Tawa Audrey membuatku tersenyum kecil. Lalu Audrey menyela, "Sebenarnya kamu ingin kembali bukan ke Jakarta?" Audrey menatap mataku mencoba mencari tahu kebenaran yang ada dimataku. Dia memang suka begitu bila ingin mencari tahu tentang hal yang dia yakini itu benar. "Tidak, bukan itu. Aku hanya sedih Nathan pergi secepat itu, rasanya kita baru menghabiskan waktu sebentar. " Kataku sambil menarik napas, "Ternyata satu tahun begitu cepat berlalu." Aku kembali tenggelam menatap langit senja. Audrey mengikutiku menatap langit senja. Terdiam bisu diantara keheningan taman menjelang malam sudah mulai sepi. Daun-daun pohon berguguran dan udara mulai lembab. Musim gugur akan tiba. Kataku dalam hati.
Kembali tiba-tiba lamunanku terpotong, aku kembali lagi ke alam nyata oleh panggilan suara seorang laki-laki. Aku dan Audrey menengok secara bersamaan melihat ke arah laki-laki yang sedang berjalan menuju ke arah kami. Seperti biasa laki-laki itu selalu berjalan dengan badan tegak dan mata memandang lurus. Laki-laki itu mengenakan kacamata hitam, celana jeans panjang, dan t-shirt bergaris warna navy-putih. Aku sudah biasa dan sudah tidak terpesona lagi. "Kamu yakin?" tiba-tiba batin kecil ku berkata seperti itu. Laki-laki itu berhenti didepan Aku dan Audrey, dan berkata "Ayo kita pulang supir sudah menunggu di depan taman." Sambil memandang hanya ke Audrey. Lalu tanpa perlu aku mengerti tentang perkataannya tadi dan bahasa tubuhnya, aku tak perlu berbasa-basi lagi kepada laki-laki ini langsung saja aku berdiri dan berkata kepada Audrey, "Terimakasih sudah mengantar Nathan tadi ke bandara dan menemaniku disini. Sebaiknya aku pulang sekarang." Lalu Audrey tiba-tiba menghalangi jalanku dan berkata, "Kau akan ku antar pulang Rain, Ayo ikut kami ini sudah menjelang malam dan jalanan sudah sepi nanti kau diculik...."
Seperti biasa Audrey memanggilku Rain bukan Raina, seperti biasa Audrey selalu memaksaku untuk menuruti keinginannya, seperti biasa Audrey akan berbicara tiada henti sampai aku mengikuti keinginannya, dan selalu seperti biasa Audrey yang begitu banyaknya. Padahal Usianya 18 tahun, astagaaaa!! "Oke aku ikut" Lalu Audrey setengah menyeret lenganku, aku yang tinggi hanya sekitar 158cm dan tinggi Audrey 172 membuat tubuhku berbanding jauh dengannya. Sambil berjalan dengan rangkulan yang masih erat memegang lenganku, Audrey berbicara banyak lagi dengan bahasa Jerman yang begitu cepat sehingga aku terlalu bingung untuk mendengarkan apa yang dia bicarakan. Tiba-tiba kepalaku berputar kearah kanan untuk melihat bangku taman tadi, lalu aku melihat laki-laki itu berjalan sekitar 5 m dibelakang kami, sambil melepas kacamata hitamnya dia memandang ke arah depan, mata kami bertubrukan. Saat itulah kulihat senja dimatamu, Thomas.
Masih bertanya-tanya kepada langit didalam hati lamunanku menghilang, kembali ke alam nyata. Audrey memanggilku dari ujung jalan taman ini, aku melihatnya. Dia mulai berjalan menghampiriku dan tiba-tiba duduk disebelah bangku taman yang kutempati. "Masih sedih?" tanyanya. Aku menjawab "Tidak... Dan bagaimana kau tahu?" tanyaku kepada dia. Audrey malah tertawa. Aku suka melihatnya tertawa bukan karena aku menyukai dirinya, tapi aku memang sangat menyukai dirinya. Maksudku dalam arti seorang sahabat, seorang kakak perempuan baginya dan seorang kakak ipar baginya... Mengapa pikiran terakhir itu bisa terlintas dibenakku?
Tawa Audrey membuatku tersenyum kecil. Lalu Audrey menyela, "Sebenarnya kamu ingin kembali bukan ke Jakarta?" Audrey menatap mataku mencoba mencari tahu kebenaran yang ada dimataku. Dia memang suka begitu bila ingin mencari tahu tentang hal yang dia yakini itu benar. "Tidak, bukan itu. Aku hanya sedih Nathan pergi secepat itu, rasanya kita baru menghabiskan waktu sebentar. " Kataku sambil menarik napas, "Ternyata satu tahun begitu cepat berlalu." Aku kembali tenggelam menatap langit senja. Audrey mengikutiku menatap langit senja. Terdiam bisu diantara keheningan taman menjelang malam sudah mulai sepi. Daun-daun pohon berguguran dan udara mulai lembab. Musim gugur akan tiba. Kataku dalam hati.
Kembali tiba-tiba lamunanku terpotong, aku kembali lagi ke alam nyata oleh panggilan suara seorang laki-laki. Aku dan Audrey menengok secara bersamaan melihat ke arah laki-laki yang sedang berjalan menuju ke arah kami. Seperti biasa laki-laki itu selalu berjalan dengan badan tegak dan mata memandang lurus. Laki-laki itu mengenakan kacamata hitam, celana jeans panjang, dan t-shirt bergaris warna navy-putih. Aku sudah biasa dan sudah tidak terpesona lagi. "Kamu yakin?" tiba-tiba batin kecil ku berkata seperti itu. Laki-laki itu berhenti didepan Aku dan Audrey, dan berkata "Ayo kita pulang supir sudah menunggu di depan taman." Sambil memandang hanya ke Audrey. Lalu tanpa perlu aku mengerti tentang perkataannya tadi dan bahasa tubuhnya, aku tak perlu berbasa-basi lagi kepada laki-laki ini langsung saja aku berdiri dan berkata kepada Audrey, "Terimakasih sudah mengantar Nathan tadi ke bandara dan menemaniku disini. Sebaiknya aku pulang sekarang." Lalu Audrey tiba-tiba menghalangi jalanku dan berkata, "Kau akan ku antar pulang Rain, Ayo ikut kami ini sudah menjelang malam dan jalanan sudah sepi nanti kau diculik...."
Seperti biasa Audrey memanggilku Rain bukan Raina, seperti biasa Audrey selalu memaksaku untuk menuruti keinginannya, seperti biasa Audrey akan berbicara tiada henti sampai aku mengikuti keinginannya, dan selalu seperti biasa Audrey yang begitu banyaknya. Padahal Usianya 18 tahun, astagaaaa!! "Oke aku ikut" Lalu Audrey setengah menyeret lenganku, aku yang tinggi hanya sekitar 158cm dan tinggi Audrey 172 membuat tubuhku berbanding jauh dengannya. Sambil berjalan dengan rangkulan yang masih erat memegang lenganku, Audrey berbicara banyak lagi dengan bahasa Jerman yang begitu cepat sehingga aku terlalu bingung untuk mendengarkan apa yang dia bicarakan. Tiba-tiba kepalaku berputar kearah kanan untuk melihat bangku taman tadi, lalu aku melihat laki-laki itu berjalan sekitar 5 m dibelakang kami, sambil melepas kacamata hitamnya dia memandang ke arah depan, mata kami bertubrukan. Saat itulah kulihat senja dimatamu, Thomas.

Komentar
Posting Komentar